Kezaliman sering kali membuat seseorang merasa menang karena ia berhasil menyakiti orang lain, mengambil haknya, atau membuatnya tidak mampu membalas. Namun, manusia sering lupa bahwa tidak semua orang yang disakiti akan membalas dengan cara yang sama. Ada orang yang memilih diam, menahan air mata, lalu membawa seluruh luka itu kepada Allah dalam sujudnya. Di situlah seseorang perlu berhati-hati, karena perkara yang tidak mampu ia selesaikan dengan kekuatan manusia dapat menjadi perkara yang ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Orang yang dizalimi mungkin tidak memiliki kekuatan untuk membalas. Ia tidak mampu mengubah keadaan, tidak sanggup memenangkan perdebatan, atau memilih untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan. Tetapi ketidakmampuannya membalas bukan berarti penderitaannya tidak diketahui. Allah mengetahui setiap air mata, setiap luka, dan setiap hak yang dirampas. Karena itu, jangan merasa aman hanya karena orang yang kita sakiti memilih diam.
Namun, ini bukan berarti setiap kesulitan yang menimpa kita pasti merupakan akibat dari doa orang yang pernah kita sakiti. Kita tidak mengetahui perkara gaib dan tidak boleh dengan mudah menyimpulkan bahwa setiap musibah adalah hukuman tertentu. Yang dapat dipastikan adalah bahwa kezaliman terhadap manusia merupakan perkara serius. Hak manusia tidak selesai hanya dengan merasa menyesal di dalam hati, jika kita telah merugikan seseorang, kita perlu berusaha memperbaikinya dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
Justru karena itu, jangan menunggu sampai seseorang memilih membawa lukanya kepada Allah. Jika kita sadar telah menyakiti seseorang, segeralah introspeksi. Kembalikan haknya jika ada yang dirampas, luruskan kesalahan jika ada yang difitnah, dan minta maaf jika kita telah melukai hatinya. Merendahkan ego untuk mengakui kesalahan jauh lebih baik daripada mempertahankan gengsi sementara hubungan dengan sesama manusia telah rusak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar