Kamis, 29 Januari 2026

Why

 


Ini acara tunangan anak dari kakak sepupu gw. Dan gw ga diundang, karena skrg nasib gw ga sebaik mereka. Dipikir2 iya jg sh ngapain gw diundang, klo cm ngasih doa restu doank, ga bawa angpaw ato kado2 so sweet dsb.

Mereka dengan nasib baik mereka sendiri, tanpa mau tau keadaan gw sepahit apa.

Terjebak toxic marriage, ibu tiri suami zombie. Pekerjaan yg ga menyenangkan, ga menenangkan, apalagi menyejahterakan.

Terjebak generasi sandwich seumur hidup emak gw.

Katanya klo mau tenang itu kerja, klo mau kaya jadi pengusaha. Mereka salah kali ini, karena pekerjaan saat ini tidak ada yg membuat tenang, tp yg membuat nestapa banyak. Jadi pengusaha itu harus kaya, klo miskin mana bisa jd pengusaha.

Contohnya ya cewe beruntung diatas, mama nya pewaris, papa nya pewaris punya kerjaan di BUMN. Otomatis dia jg pewaris, beres kuliah langsung rintis usaha pk modal bapak. Dapetin circle horkay, nyantol sm cowo pewaris jg yg kuliah kedokteran universitas swasta yg biaya kuliahnya jelas ga ngotak.

Dahlah ga sebanding sm hidup toxic yg gw jalanin ini. Kena radang mulut rahim, gara2 lepas IUD yg udah 8 tahun di puskesmas. Ga tau nya spekulum yg dipake ga steril. Bidannya mana mau ngaku, kepaksa gw lagi kena stigma suami suka jajan padahal ngga, gw nya bukan cm jualan minuman probiotik tp jualan yg ena2 padahal boro2.

Gimana mau jualan ena2, pelanggannya jg nenek2 kakek2 bau tanah, atau bocil ingusan yg nangis minta beliin jajan ke emaknya. Padahal emaknya ga punya duit, jadinya cm pgn di giveaway. Klo ga gw giveaway, keluar dah tuh sumpah serapah nya yg ga bagus2. Dikejar2 orang gila bau pesing pas jualan jg sering.



Damn, gw udah muak dikerjain PT abal2, perjanjian mitra keagenan tp kerjanya jd pengabdi setan korporat. Si admin mh enak bisa buka usaha dimsum, modal jual mobil laki nya. Tp kenapa ga berani lepas kerjaan nya jd admin pengabdi setan? Ya karena doi GA JUALAN, cm ngerjain admin sm ngepush jualan ke emak2 kismin berbakat gegara kebutuhan bertahan hidup doank. Mindset tu emak2 udah diluar nalar, klo kita ga jd pengabdi setan disini kita mau makan darimana? Katanya Bla bla bla dasar anggota piramida bawah illuminati.

Jobdesk udah kyk babu tp diperes gajinya buat nombokin setoran harian. Perusahaan gede tp dzolimnya ga nanggung2. Herannya masih ada aj yg manut, selama masih ada mereka2 yg manut ya ga bakalan pernah ilang tu perusahaan dzolim.

Balik lagi ke judul artikel ini why? Apakah dunia ga selayak itu buat dihuni? Ya karena ada bentuk keadilan Tuhan setelah kematian. Dan di kehidupan dunia ini ga ada kebahagiaan abadi, begitu pula ga ada penderitaan yg abadi.


Selasa, 13 Januari 2026

Revolusi Perbankan Moneter

Sumber : liputan6.com

Masalah "yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin" sering kali berakar pada bagaimana uang diciptakan dan didistribusikan dalam sistem kapitalis saat ini.

Untuk merevolusi sistem ini, para ahli ekonomi alternatif dan aktivis sosial biasanya mengusulkan perubahan pada tiga level utama: Penciptaan Uang, Akses Perbankan, dan Distribusi Nilai.

1. Reformasi Penciptaan Uang (Moneter)

Dalam sistem sekarang, sebagian besar uang diciptakan oleh bank komersial melalui utang (pinjaman). Ini menciptakan fenomena di mana uang mengalir ke mereka yang sudah punya aset (sebagai jaminan), sementara orang miskin terbebani bunga.

Sovereign Money (Uang Berdaulat): Mengembalikan hak eksklusif penciptaan uang hanya kepada Bank Sentral, bukan bank swasta. Dengan cara ini, uang baru bisa disalurkan langsung ke belanja publik (infrastruktur, pendidikan) tanpa melalui utang bank yang berbunga.

Pajak Progresif pada Aset Finansial: Bukan hanya memajaki gaji (tenaga kerja), tapi juga memajaki keuntungan dari spekulasi saham dan properti dengan tarif tinggi untuk mencegah penumpukan kekayaan di puncak.

Modern Monetary Theory (MMT) untuk Rakyat: Menggunakan kapasitas fiskal negara untuk mendanai Job Guarantee (Jaminan Kerja), di mana negara menyediakan pekerjaan bagi siapa pun yang ingin bekerja, sehingga menetapkan "lantai" bagi upah dan kesejahteraan.

2. Revolusi Perbankan dan Akses Modal

Perbankan konvensional sering kali bersifat "ekstraktif" (mengambil keuntungan dari bunga). Revolusi di sini berarti beralih ke model yang lebih "generatif".


Sistem Bagi Hasil (Risk-Sharing): Seperti prinsip dalam ekonomi syariah atau venture capital sosial. Bank tidak lagi menarik bunga tetap, melainkan berbagi risiko. Jika bisnis nasabah rugi, bank ikut menanggung; jika untung, dibagi bersama. Ini memaksa bank untuk benar-benar membantu kesuksesan nasabah, bukan hanya menagih utang.

Perbankan Komunitas dan Koperasi: Memperkuat bank milik anggota (credit unions) di mana keuntungan dikembalikan ke nasabah dalam bentuk bunga pinjaman yang rendah atau layanan sosial, bukan ke pemegang saham besar.

Digitalisasi dan Fintech Inklusif: Menggunakan teknologi untuk memberikan akses kredit tanpa jaminan aset fisik bagi UMKM, menggunakan data perilaku ekonomi sebagai pengganti kolateral.

3. Distribusi Nilai: Dari "Trickle Down" ke "Pre-distribution"

Alih-alih menunggu kekayaan "menetes ke bawah" (yang jarang terjadi), sistem harus dirancang agar uang sejak awal mengalir ke bawah.

Universal Basic Income (UBI): Memberikan jumlah uang tunai dasar secara rutin kepada setiap warga negara tanpa syarat. Ini memberikan posisi tawar bagi buruh agar tidak dipaksa bekerja dalam kondisi tidak manusiawi hanya untuk bertahan hidup.

Demokrasi di Tempat Kerja: Mendorong kepemilikan saham oleh karyawan (Employee Stock Ownership Plans). Jika perusahaan profit, buruh juga ikut kaya, bukan hanya pemilik modal.


Apa yang bisa kita lakukan sekarang?

Meskipun perubahan sistemik membutuhkan kebijakan politik, secara individu atau komunitas kita bisa memulai dengan:

Pindah ke Koperasi atau Bank Lokal: Mengalihkan dana dari bank raksasa ke lembaga keuangan yang lebih peduli pada komunitas lokal.

Mendukung Ekonomi Sirkular: Membeli dari produsen lokal agar uang tetap berputar di komunitas bawah, bukan terserap ke korporasi global.

Minggu, 11 Januari 2026

Puncak komedi


Di tengah puncak komedi lawakan pejabat kocak masih aja ada yg khawatir pembullyan di kalangan anak pejabat. Komentar menohok ini sungguh fakta yg tak terbantahkan.

tenang aja mas, kalok jan etes itu anak elu baru banyak yg ngejek. Tp jan etes itu anaknya gibran, dia gak main comberan bareng anak kampung, gak mandi sunge ampe badannya kudisan, gak mabar ep ep diwarung tetangga, dia gak sekolah di SD negri yang rentan pembullyan, dan gak tinggal dikampung yg banyak tetangga julid. Jadi dia aman bang... 

 Yg gak aman itu masa depan anak2 negri ini, yg tinggal dikaki gunung, dipinggir laut, yg bapaknya cuma org miskin, yg emaknya janda miskin. Gak bisa sekolah krna gak punya akte, gak bisa kebeli rumah krna buat makan aja susah, yg musti kerja biar bisa makan bareng adeknya. Dan makin tahun anak begitu makin banyak bang, krna makin banyak juga org2 yg jatuh miskin dinegri ini. Kecuali nanti mereka diangkat jadi pejabat pakek ijazah palsu trus KKN, atau minimal jadi buzzer bisa dapat cuan modal posting2 n komen2 doank. Naahhh... Mgkn mereka bisa tuh jadi OKB. 😅

 Sumber : Tempo

Rabu, 07 Januari 2026

Implikasi Energi Global: Minyak & Emas Venezuela


Beberapa hari terakhir, dunia seperti disuguhi tontonan gaya lama yang dikemas dengan teknologi baru. Aksi keras pemerintah Amerika di bawah Donald Trump—menggunakan kekuatan militer secara langsung—membuat banyak orang terhenyak. Ada yang kaget, ada yang marah, ada juga yang menganggap ini “urusan jauh di sana”. Tapi jujur saja, kalau masih ada yang bilang ini tidak penting atau tidak relevan, mungkin memang sudah terlalu lama hidup tanpa mengikuti berita dunia.


Narasi yang beredar ke publik relatif seragam: pemerintahan Nicolás Maduro dibenci rakyatnya, ekonomi Venezuela hancur, rakyat menderita, dan karena itu perubahan dianggap perlu. Dan ya, sebagian dari itu memang benar. Venezuela mengalami hiperinflasi, kelangkaan barang, dan penurunan kualitas hidup yang serius dalam beberapa tahun terakhir. Tapi di sinilah masalahnya: cerita itu sering dipotong setengah.


Yang jarang diceritakan secara utuh adalah fakta bahwa penderitaan ekonomi Venezuela tidak muncul di ruang hampa. Sanksi ekonomi Amerika Serikat memainkan peran besar. Akses perdagangan dibatasi, transaksi keuangan dipersulit, ekspor energi ditekan. Negara yang bergantung pada ekspor sumber daya alam, ketika diputus dari pasar global, ya tentu saja akan megap-megap. Jadi ketika rakyat menderita, pertanyaannya bukan hanya “siapa presidennya”, tapi juga siapa yang memegang keran ekonomi globalnya.


Sekarang kita masuk ke inti yang sering dihindari dalam diskusi publik: sumber daya alam. Venezuela bukan negara miskin. Justru sebaliknya. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, bahkan melampaui Arab Saudi. Tidak hanya itu, Venezuela juga menyimpan cadangan emas yang sangat besar, bahkan lebih besar dibandingkan Afrika Selatan. Minyak ada. Emas ada. Tapi ekonomi hancur. Ironis? Sangat. Aneh? Tidak juga, kalau kita paham geopolitik.


Sejarah dunia penuh dengan contoh negara kaya sumber daya tapi rakyatnya miskin. Itu bukan kutukan alam, tapi hasil tarik-menarik kepentingan global. Ketika sebuah negara kaya sumber daya tapi berusaha mandiri, tidak tunduk pada kekuatan besar, masalah biasanya datang cepat atau lambat. Venezuela memilih jalur itu, dan konsekuensinya berat.


Sekarang, dengan jatuhnya pemerintahan Maduro, kita melihat arah angin mulai jelas. Amerika terang-terangan menyatakan ingin “menata ulang” Venezuela. Figur oposisi yang muncul ke permukaan—Maria Corina Machado—dikenal sangat pro-Amerika. Ia secara terbuka mendukung Israel, bahkan menyatakan niat memindahkan kedutaan Venezuela ke Yerusalem. Ia juga berbicara soal “mengembalikan kebebasan” dengan cara yang terdengar sangat akrab bagi siapa pun yang mengikuti sejarah intervensi global.


Pertanyaannya sederhana: kebebasan versi siapa?


Kalau kita tarik garis sejarah, situasi ini terasa sangat familiar. Indonesia pernah berada di titik serupa. Presiden Soekarno pernah mengatakan bahwa ia lebih memilih membiarkan sumber daya alam tetap terkubur sampai anak bangsa mampu mengelolanya sendiri. Tidak lama setelah itu, ia digulingkan. Beberapa bulan kemudian, kontrak Freeport di Papua ditandatangani. Sejarah tidak selalu berulang dengan wajah yang sama, tapi polanya sering kali mirip.


Sekarang kita bicara implikasi energi globalnya. Minyak Venezuela bukan minyak sembarangan. Sebagian besar cadangan minyak Venezuela adalah heavy crude oil—minyak berat. Jenis ini kental, murah di harga mentah, tapi mahal dan kompleks dalam pengolahan. Dan menariknya, kilang minyak di Amerika Serikat justru dirancang untuk mengolah heavy crude oil.


Kenapa? Karena menguntungkan. Heavy crude dibeli murah, diolah dengan teknologi tinggi, lalu dijual sebagai produk bernilai tinggi. Margin pengolahannya besar. Sementara itu, minyak yang banyak diproduksi Amerika sendiri adalah light crude oil, yang justru tidak semua kilang mereka mampu olah secara optimal, dan margin pengolahannya relatif kecil.


Artinya, dari sudut pandang industri energi Amerika, Venezuela adalah pasangan sempurna. Sumber heavy crude besar, dekat secara geografis, dan—kalau pemerintahnya “bersahabat”—mudah diakses. Kalau akses itu terbuka, dampaknya bukan hanya ke Venezuela, tapi ke pasar energi global. Harga, suplai, dan keseimbangan kekuatan energi dunia bisa bergeser.


Di titik ini, cerita “demokrasi” dan “kepedulian terhadap rakyat” sering kali menjadi pembungkus yang rapi. Bukan berarti isu demokrasi tidak penting, tapi dalam geopolitik, niat mulia sering berjalan beriringan dengan kepentingan yang sangat praktis.


Yang perlu kita pahami sebagai masyarakat awam adalah ini: ketika negara besar bergerak agresif, jarang sekali itu dilakukan tanpa perhitungan ekonomi jangka panjang. Minyak dan emas bukan sekadar komoditas. Ia adalah alat tawar, sumber kekuasaan, dan penentu arah dunia.


Apakah perubahan di Venezuela akan membawa kesejahteraan bagi rakyatnya? Kita semua tentu berharap demikian. Tapi sejarah mengajarkan satu hal pahit: perubahan rezim tidak otomatis berarti perubahan nasib, terutama jika kendali sumber daya berpindah tangan ke luar negeri.


Dan buat kita yang menonton dari jauh, ini seharusnya menjadi pengingat. Dunia tidak pernah benar-benar bergerak karena emosi. Ia bergerak karena kepentingan. Siapa yang menguasai energi, menguasai permainan. Dan Venezuela—dengan minyak dan emasnya—sedang berada di tengah papan catur global itu.


Pertanyaannya sekarang bukan hanya apa yang akan terjadi pada Venezuela, tapi siapa berikutnya, dan pelajaran apa yang mau kita ambil agar tidak mengulang cerita yang sama dengan wajah yang berbeda.

Source


Setelah ditelusuri ternyata sejarah membuktikan bahwa kita semua kecolongan dengan yg namanya kebebasan, demokrasi, dan kapitalisasi. Gw bukan antek aseng paling kanan, dan bukan juga komunis paling kiri. Tp gw nangis setelah tau klo kontrak Freeport itu ditandatangan setelah pelengseran Soekarno. Penandatangan kontrak itu berkuasa 32 tahun, keluarga beserta kroni2nya kaya 7 turunan. Sementara rakyat Indonesia masih berjuang buat sekedar bertahan dari semua nasib buruk jd seorang WNI medioker.

Masih awal tahun 2026 udah ada pedagang gulali yang mati kelaparan.

Empati di masyarakat sudah mati karena kerasnya kehidupan. Semoga Allah melindungi kalian semua para survivor medioker. 

Senin, 05 Januari 2026

Hukum Gravitasi Moral: Metafora Mandi Sang Jenderal


Ucapan Jenderal Hoegeng bukan sekadar tips birokrasi; itu adalah pengakuan terhadap Hukum Gravitasi Moral. Sebagaimana air yang selalu patuh pada gravitasi untuk mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah, demikian pula watak sebuah bangsa mengalir dari perilaku pemimpinnya.


Berikut adalah tiga dimensi filosofis dari metafora tersebut:

1. Hulu yang Keruh Tak Akan Menghasilkan Hilir yang Bening

Secara ontologis, "kepala" atau bagian "atas" adalah pusat kesadaran dan kendali. Jika mata tersabun atau pikiran kotor, maka tangan dan kaki akan bergerak tanpa arah.

Dalam konteks negara, rakyat dan birokrat rendahan adalah cerminan (refleksi) dari elitnya. Memaksa bawahan untuk jujur sementara atasan sibuk memperkaya diri adalah sebuah paradoks eksistensial. Kita tidak bisa menuntut bayangan untuk lurus jika benda yang memantulkannya bengkok.


2. Keterbatasan Sapu yang Kotor

Filosofi mandi mengajarkan kita bahwa alat pembersih (air dan sabun) harus lebih suci daripada objek yang dibersihkan.

Ketika korupsi hendak dibersihkan, namun "sapu" yang digunakan (aparat penegak hukum atau pemimpin) itu sendiri kotor, maka proses pembersihan itu hanyalah ilusi. Alih-alih membersihkan, gesekan yang terjadi justru menyebarkan kotoran ke area yang lebih luas. Ini menciptakan apa yang disebut lingkaran setan hipokrisi—dimana hukum ditegakkan bukan untuk keadilan, tapi untuk menutupi jejak kotoran di bagian atas.


3. Rasa Sakit dari Sebuah Integritas

Mandi itu proses meluruhkan daki. Ada gesekan, ada rasa perih jika terkena luka, dan ada dingin yang menusuk.

Hoegeng memahami bahwa membersihkan diri dari "atas" itu menyakitkan. Itu menuntut pemimpin untuk mematikan ego, menolak kenyamanan (gratifikasi), dan siap dikucilkan karena "terlalu bersih" di tengah lingkungan yang kumuh. Membersihkan diri dari atas berarti siap "telanjang" tanpa perlindungan privilege, membiarkan diri diperiksa dan dikuliti oleh standar moral yang paling ketat.


Renungan Akhir

Membersihkan dari bawah itu mudah, karena yang di atas memegang kuasa untuk menghukum. Tapi membersihkan dari atas itu sulit, karena membutuhkan penaklukan diri.

Negara ini tidak kekurangan orang pintar yang bisa merumuskan undang-undang anti-korupsi. Negara ini kekurangan orang yang berani mengambil gayung pertama, menyiram kepalanya sendiri, dan berkata: "Lihat, saya sudah bersih. Sekarang giliran kalian."

Itulah esensi sunyi dari jalan pedang seorang Hoegeng.


Catatan Kaki