Cerita dibawah ini adalah kisah nyata dari seseorang yang tidak saya kenal di blogger. Kisah hidupnya hampir mirip dengan saya, tapi saya lebih beruntung karena sudah dikaruniai seorang putra.
Sebenarnya apa tugas utama seorang Istri?
Mengurus rumah, mengurus semua kebutuhan suami, mengurus anak2. Apa hanya itukah Tugas Seorang Istri?
Lalu, bagaimana dengan Tugas Seorang Suami? Hanya mencari nafkah dan jadi Kepala Keluarga semata?
Bagaimanakah kalau Laras sebagai seorg istri yang jg bekerja mencari
nafkah? Atau mungkin dibalik saja Laras yang menjadi kepala keluarga
mencari nafkah dan mencukupi semua kebutuhan rumah tangga sedangkan
Hanafi suaminya hanyalah pengangguran? Apa yg suami lakukan?
Hanafi mencoba melamar2 pekerjaan tapi, tak kunjung jua mendapatkan
pekerjaan yg pasti dan tetap sedangkan Laras yang sudah lebih dahulu
memiliki pekerjaan yang tetap harus membanting tulang mencari nafkah
seharian. Capek, Lelah, yg istri rasakan dengan seabrek masalah yg
dihadapi di kantornya. Belum lagi setibanya dia di rumah dia harus tetap
mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci baju,
mengepel, menyetrika baju dan msh byk lagi hingga tengah malam dia baru
bisa istirahat.
Pdhal yg selalu ada dibenak sang istri bgt dia sampai di rumah dia bisa
istirahat menghilangkan lelah seharian bekerja sembari nonton tv dan
tidur cepat hingga keesokkan harinya bisa fresh. Tapi, apa yg didapatkan
sang istri? Rasa lelah yang berkepanjangan.
Lalu, kemana dan ngapain aja sang suami seharian?
Memang Hanafi sering membantu pekerjaan Laras di rumah. Dia bereskan
semua pekerjaan rumah tangga sehingga sang istri pulang bisa istirahat
total. Dibuatkannya air panas untuk mandi Laras, dibuatkannya teh hangat
dan dia siapkanmakan malam utk istrinya tercinta. Terkadang pijitan2an
sayang dia berikan utk istri tercintanya hingga istrinya tertidur dengan
lelap.
Oh…sangat pengertiannya suamiku mgk hanya ini yg ada dibenak Laras.
Laras adalah seorang wanita yang sangat sabar dalm menghadapi suaminya
yg pengangguran, dia sama sekali mementingkan kebutuhannya meski hanya
sekedar untuk memanjakan diri ke salon atau untuk beli baju baru.
Tetapi, yang dipikirkan selalu suaminya asalkan suaminya bisa makan dan
punya pakaian yg bagus dia pun ikut bahagia. Kebahagiaan suaminyalah yg
paling ptg untuk Laras. Meski dia sangat jarang sekali suaminya tiap
bulan mengajaknya beli bajukah, atau makan di restoran itu bukanlah hal
yg ptg buat Laras karena suaminya orang yg sangat senang dengan masakan
istrinya.
Tetapi, kehidupan ekonomi tak bisa ditutupi terkadang Hanafi emosi yg
gak jelas malah kadang spt anak kecil terlebih lagi apabila Hanafi
sedang punya uang dan Laras tak punya uang sepeser pun hanya tinggal
untuk transportasi saja. Istrinya rela bangun pagi2 untuk memasak makan
sang suami dan bekalnya ke kantor lumayanlah ngirit uang makan. Laras
tetap sabar dan ikhlas menjalani hari2nya, meski sangat jauh berbeda
dari teman2nya di kantor yang masih bisa jajan atau makan enak.
Di suatu pagi menjelang Laras berangkat kerja Tiba2 si suami berkata
“kamu kok berangkatnya selalu telat?” Laras menjawab “aku punya waktu
sampai jam 8.15 mas dan gak ada masalah krn bukan hanya aku saja yang
telat.” Tiba2 si suaminya berkata “kamu jangan memandang org lain trs
ukur diri kamu sendiri gak usah ikut2an kamu tak tinggal lho (berangkat
duluan)” dengan nada kesal istrinya menjawab “tinggal aja sana”
Suaminya langsung pergi tanpa pamit dan Laras pergi kerja dengan rasa
kesedihan dengan rasa yang aneh thd sikap suaminya kalau dia bernagkat
pagi2 suaminya tidak rela tapi kalau berangkatnya telat dia marah2 serba
salah jadinya. Memang sih waktu itu suaminya buru2 karena ada panggilan
interview di sebuah perusahaan.
Selama di perjalanan Laras berfikir, ini bukan pertama kalinya
suaminya sensitif ini. Selama bertahun2 dia hidup bersama suaminya
selalu seperti ini terlebih jikalau dia memiliki uang sedangkan istrinya
sudah tak memegang uang lagi semuanya habis untuk mencukupi kebutuhan
rumah tangga mereka. Tapi, jika si istri masih punya uang suaminya
sangat manis dan tak pernah marah2. Jikalau Laras ngomong baik2 ttg
sikap suaminya ini Hanafi tetep memiliki 1000 pembelaan diri, dia gak
mau diukur dengan materi krn buatnya materi itu gak penting tp SABAR dan
SANTUN yg paling penting. Selalu itu yg Hanafi katakan pd Laras tp,
Laras tau betul kebiasaan suaminya.
“Ya Allah kurang apa aku ini di mata suamiku? Sekian lama aku tutupi
statusnya yg pengangguran dari keluarga besarku. Tapi kenapa suamiku tak
pernah mau mengerti aku? Salah aku apa Ya Allah? Apakah karena aku
belum bisa memberikannya seorg anak sehingga dia bisa seperti ini
padaku” Laras hanyut dalam do’a2nya dan hanya menangis yg bisa dia
lakukan.
Bukan hanya itu juga tak jarang kalau Hanafi di pagi hari sudah
marah2 dan ngambek, bgt tiba di rumah dan ketemu istrinya dia mau
bercengkrama dg istrinya. Tapi, dia hanya diam 1000 bahasa hingga Laras
mau minta maaf terlebih dahulu. Istrinya sering mengalah dalam hal ini
karena dia pikir di rumah ini kami hanya berdua kalo gak ada yg diajak
ngobrol harus ngobrol sama sapa lagi? Tapi, terkadang jg Laras ttp diam
semata2 dia jg mau suaminya menyadari kesalahannya.
Hmmm…Sebenarnya siapakah yg harus disalahkan dalam masalah ini? Si
istri yg terlalu perasa atau suaminya yg pengangguran sehingga
memaksanya harus mjd seorang yg sensitif? Tapi Laras sangat menerima
dengan kondisi suaminya saat ini dan dia tidak menuntut apa2 dari
suaminya.
Terkadang sang istri merasa iri dg teman2nya yg serba kecukupan baik
dari suaminya punya pekerjaan yg mapan dan gaji tinggi, materi
kecukupan, memiliki rumah yg mewah, punya anak…”begitu bahagianya
mereka. Sedangkan aku punya motor aja masih kredit dan itu belum lunas,
msh ngontrak di rumah yg kecil krn gajiku tak cukup untuk ngontrak rumah
yg lbh besar lg, belum lagi suamiku yg pengangguran.” Laras meratapi
kondisi rumah tangganya yg sulit “Astaghfirullahaladzim… tak seharusnya
aku begini Ampuni aku Ya Allah yang mgk kurang bersyukur atas nikmat dan
rahmat yang telah Engkau berikan pada kami” Laraspun terhentak dari
ratapannya.
Terkadang Laras ingin berbagi cerita tapi pada siapa dia harus
cerita? Temankah? Apakah mereka bisa membantu mengurangi derita Laras?
Tentu tidak paling mereka hanya jadi pendengar yg baik dan merasa
kasihan padaku, sedangkan aku tidak butuk dikasihani apalagi ini aib
rumah tangga yg bukan utk konsumsi publik.
Keluargaku? Jangan, ini akan jadi boomerang utkku habis dicaci dan
dimaki oleh keluargaku karena dulu yang ngotot untuk menikah dengan Mas
Hanafi itu aku. Gimanapun aku harus menjaga nama baik suamiku. Laras
terus berpikir…
Apa mertua aja ya? Secara mertua sudah tau kondisi suamiku, tapi,
janganlah mereka sudah pada tua dan gak sepantasnya aku membebani
pikiran mereka lagi. Lalu, pada siapa lagi aku harus berbagi untuk
mengurangi kesedihanku ini? Laras terus berpikir…
Ya…benar hanya pada Allah aku bisa mencurahkan semuanya. Hanya Pada
Dia aku bisa menceritakan semuanya dan hanya Allah yg bisa menolong
kami. Meski Laras harus selalu menangis di setiap Sholatnya setidaknya
sudah mengurangi beban Laras.
Akhirnya Laras memutuskan hanya menyimpan rapat2 kondisi rumah tangganya
dari semua org biarlah dia yg mengalami dan merasakannya. “Syukur
Alhamdulillah suamiku jg sgt menyayangi aku, dia tidak menuntut apa2,
emang dia kadang sensitif sekali tapi itulah sifatnya nggak apa2 aku
terima ini sudah resiko aku mau mengarungi bahtera hidup ini bersamanya
hingga ajal menjemput kami.” Laras tersadar dari semua…
setidaknya dia masih bisa bersyukur kalau suami seperti Mas Hanafi tidak
pernah menyalahkannya hingga 2,5 tahun mereka belum memiliki keturunan
dari rahim Laras. Itu yg membuat Laras semakin semangat menjalani hidup
ini, meski banyak kekurangan yg ada didirinya dan suaminya. Pasti semua
ini ada hikmah yg baik untuknya dan suaminya.
Laras hanya bisa bersabar, pasrah dan ikhlas menjalani hidupnya bersama
suaminya dan terus berharap suatu saat Allah bisa memberikannya
keturunan dari rahimnya sendiri dan suaminya jg bisa menjadi org yg
sukses, Insyaallah.. apapun keadaan suaminya Laras ikhlas menerimanya
karena tujuannya adalah ingin mengabdi dangan setia pada Allah Sang Maha
Pencipta dan suaminya.
Ya Allah Kuatkan kami berdua dalam mengarungi bahtera rumah tangga
kami dan menjalani kehidupan ini. jangan Engkau berikan kami berdua
ujian dan cobaan yang melebihi batas kemampuan kami Ya Allah…Amien
Rabu, 27 Juli 2016
Cara istri menghadapi suami pengangguran
Anda saat ini sedang tidak bekerja karena menerima penawaran program pensiun dini dari perusahaan, dan tentunya mendapat pesangon yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi, walau hanya beberapa tahun. Selama menikah, suami tidak pernah memberi uang 'jajan', bahkan Anda harus ikut menanggung kewajiban suami. Anda berdua mengelola uang masing-masing. Suami juga suka meminjam uang tabungan Anda dan tidak pernah mengembalikannya. Utangnya pun banyak, di mana-mana. Anda benar-benar stres atas perilaku suami. Tapi, Anda bertahan karena mempertimbangkan perasaan anak-anak.
Menurut Irma Makarim banyak pasangan enggan membicarakan masalah uang. Padahal, kita semua tahu, uang menyentuh segala segi kehidupan kita. Dalam rumah tangga, uang sangat penting. Jika dikelola dengan benar, uang akan membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga. Tetapi, bila dikelola tanpa tanggung jawab, ceroboh atau tidak jujur, uang bisa mengganggu hubungan suami-istri dan merusak rumah tangga.
Masalah Anda memang rumit. Jujur saja, Anda pun ikut berkontribusi, dengan memberikan pinjaman tanpa pengawasan yang benar. Padahal, Anda tahu suami tidak membayar utangnya dan tidak terbuka dalam mengelola uangnya. Tak heran bila Anda kehilangan respek terhadap suami, bahkan muncul keinginan bercerai. Ini jalan pintas yang belum tentu menyelesaikan masalah, bahkan mungkin jadi masalah baru.
Anda harus membantu suami menyadari tanggung jawabnya terhadap rumah tangga dan semua utang-utangnya. Awali dengan membicarakan semua masalah keuangan ini secara tuntas dan terbuka. Bila suami punya kendala dalam berbisnis dan mengelola keuangannya, anjurkan untuk minta bantuan penasihat keuangan profesional. Penting bagi suami melihat kekurangan dan kelebihan dirinya sehingga bisa menggali potensi yang dimilikinya. Bila ia memang tak andal berbisnis, mungkin perlu dipikirkan kembali bekerja sesuai potensinya. Suami perlu dibantu untuk bangkit kembali dan perlahan-lahan melunasi utangnya. Anda sendiri perlu mengelola pesangon Anda dan mencari sumber penghasilan baru. Sikap Anda dalam mengelola rumah tangga, keuangan, dan pekerjaan bisa jadi contoh yang baik bagi suami dan anak-anak.
Anda selalu memberi pinjaman dan bergantung pada janji pengembalian. Namun, sekian lama Anda memberi dan berharap beroleh kembali, sekian lama pula Anda mengulang dan mengulang lagi. Ini semua pilihan Anda. Jika kondisi ini berlanjut, maka kondisi sama pula yang akan Anda alami. Tak akan ada perubahan, selama Anda tidak mengubahnya.
Boleh jadi suami hanya bermimpi, tetapi Anda adalah pendukung mimpinya. Sudah saatnya Anda membawanya keluar dari mimpi, menghentikan segala usaha janjinya. Dengan kata lain, tidak meminjamkan lagi selama belum ada pengembalian. Jika berlanjut, Anda pula yang harus menanggung segalanya. Ia boleh marah. Akan tetapi, selama ini terbukti, cara Anda menghindari kemarahannya berujung dengan kekeliruan. Jadi, ubahlah sikap Anda. Bersikaplah tegas, bukan karena tak ingin berbagi, namun karena keduanya harus menyadari kewajiban. Ia harus menyadari kewajiban mengembalikan utang, dan Anda harus menyadari kewajiban mengelola keuangan secara lebih disiplin dan realistis.
Jika ia bermimpi dan Anda penunjang mimpinya, Anda berdua dan anak Anda akan terjerumus bersama dalam kemelut utang. Bahkan, anak-anak yang tidak tahu- menahu harus turut mengemban tanggung jawabnya. Jangan biarkan kondisi itu terjadi. Mereka masih punya masa depan yang panjang dan tak layak menanggung beban yang ditimbulkan oleh orang tuanya.
Langganan:
Postingan (Atom)

