Sabtu, 13 Desember 2025

Dedolarisasi, no more bank, no more USD, no more crypto.

The Rise Of Gold

Ini udah genting banget sh, disaat tambang emas Indo dah abis dikeruk entah kemana. Cm nyisa lubang nestapa di tanah Papua.

Emas2 itu diobral demi dolar, yg ga tau nya dolar itu ga berharga. Begitu jg aset di bank, crypto, bahkan mata uang negara manapun. Bos2 tambang itu pelesiran keluar negeri, segelintir orang yang makan kenyang. Sementara banyak orang kelaparan di satu negara yang terkena bencana dan kerusakan alam. Terkutuk lah para bos2 tambang itu.

Sementara rakyat menanggung bencana demi bencana, pajak tinggi dari penghasilan yg tak seberapa.

Harga batubara dan mineral kritis jatuh di pasar dunia. Bukan karena kebetulan, apalagi takdir. China—pembeli terbesar dunia—telah menimbun stok besar dan kini menahan pembelian, sambil fokus membangun substitusi domestik, efisiensi teknologi, dan diversifikasi pasokan. Pasar membaca sinyal itu dengan cepat. Harga runtuh.

Indonesia? Boncos.

Dan kini, data pajak membuktikannya tanpa perlu retorika.

Penerimaan pajak dari sektor mineral dan batubara (minerba) anjlok signifikan pada 2025. Hingga November 2025, realisasi pajak minerba hanya Rp43,3 triliun—jauh di bawah capaian dua tahun sebelumnya yang sempat mencapai level tertinggi dalam sejarah.

Direktorat Jenderal Pajak menjelaskan, lonjakan pada 2018 sempat ditopang tembaga. Namun tiga tahun terakhir menunjukkan koreksi tajam pasca-euforia pascapandemi. Fakta yang lebih menyakitkan: kontribusi minerba terhadap total penerimaan pajak nasional menyusut drastis—dari 7,35% (2023) menjadi 3,70% (2024), dan kembali turun ke 2,65% hingga November 2025. Ini bukan fluktuasi kecil. Ini kolaps struktural setelah pesta windfall.

China menimbun saat murah, menahan beli saat panas, dan membangun rantai nilai—bukan sekadar mengekspor bahan mentah. Indonesia melakukan kebalikannya:

 • membuka keran tambang tanpa kendali,

 • menjual sebanyak-banyaknya saat harga tinggi,

 • mengira boom sebagai prestasi kebijakan.

Saat harga jatuh, tidak ada perisai fiskal, tidak ada industrialisasi matang, tidak ada nilai tambah berkelanjutan. Pajak menguap, devisa menyusut, dan APBN kehilangan power. 

Setelah pesta berakhir, yang tersisa bukan fondasi ekonomi, melainkan:

 • hutan rusak,

 • air tercemar,

 • lahan mati,

 • konflik sosial,

 • dan penerimaan pajak yang menipis.

Sementara itu, bos-bos tambang hidup mewah di luar negeri—vila, apartemen, rekening aman. Ketika harga jatuh dan daerah penghasil menanggung beban, mereka sudah lama keluar dari panggung. Negara tinggal membersihkan sisa-sisa pesta—tanpa dana yang cukup. Data pajak hari ini adalah vonis: boom tanpa strategi menghasilkan kehancuran fiskal.

Source

Yg jadi pertanyaan mau sampe kapan negara ini kecolongan trus?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar