Yakult Lady sering dipuji sebagai simbol perempuan tangguh. Masalahnya, kenapa banyak perempuan harus tetap berkeliling dari rumah ke rumah untuk menjaga dapur tetap menyala, sementara negara sibuk menjual istilah pemberdayaan seolah masalahnya selesai hanya karena ada seragam, rute penjualan, dan kisah ketekunan?
Yang patut dicatat bukan cuma bahwa mereka kuat. Itu sudah jelas. Yang lebih penting adalah mengapa kekuatan perempuan di negeri ini berkali kali dipakai sebagai bantalan agar sistem yang lemah tidak tampak terlalu memalukan?
Saat kerja keras perempuan dipamerkan sebagai bukti kemajuan, padahal ia lahir dari sempitnya pilihan kerja yang aman, formal, dan layak, maka yang sedang dipoles bukan kesejahteraan, melainkan cara negara mengemas kekurangan.
Yakult Lady menjadi cermin yang sangat terang. Di satu sisi, mereka nyata menopang rumah tangga, membangun kedekatan dengan pelanggan, dan menjaga ekonomi keluarga tetap berjalan.
Di sisi lain, keberadaan mereka juga menunjukkan satu kenyataan yang terlalu sering dibungkus narasi inspiratif, yaitu Indonesia masih terlalu nyaman berdiri di atas daya tahan perempuan, bukan di atas desain kebijakan yang benar benar memudahkan mereka hidup.
Faktanya jelas. Kementerian PPPA pada April 2025 menyebut Yakult Lady sebagai perempuan hebat yang menopang keluarga, memberi pemasukan, bersosialisasi dengan masyarakat, sekaligus membawa informasi kesehatan.
Pada saat yang sama, Yakult Indonesia menyebut jumlah Yakult Lady secara nasional sudah lebih dari 11.000 orang. Angkanya besar, dan justru karena besar, ia seharusnya dibaca bukan cuma sebagai kisah keberhasilan perusahaan membangun jaringan distribusi, tapi juga sebagai penanda bahwa ada ribuan perempuan yang masuk ke model kerja fleksibel karena pasar kerja Indonesia belum benar benar ramah bagi mereka.
Data BPS menunjukkan TPAK perempuan pada Februari 2024 berada di 55,41 persen, sementara BPS juga mencatat persentase tenaga kerja formal perempuan pada 2025 hanya 36,66 persen. World Bank bahkan menegaskan partisipasi kerja perempuan Indonesia tertahan di kisaran 53 persen selama lebih dari dua dekade, dengan kesenjangan sekitar 30 poin dari laki laki. Itu bukan statistik yang netral.
Itu menunjukkan bahwa perempuan Indonesia memang bekerja, tetapi terlalu sering harus masuk ke ruang kerja yang lebih sempit, lebih rapuh, dan lebih rendah perlindungannya. Jadi ketika ribuan perempuan hadir sebagai tenaga pemasaran dari pintu ke pintu, masalahnya bukan pada mereka.
Masalahnya ada pada sistem yang begitu sering memaksa perempuan menerima fleksibilitas sebagai kompromi, karena pekerjaan yang lebih aman belum benar benar dibuka selebar itu.
Kalau mau jujur membandingkan, persoalannya jadi lebih terang saat melihat negara lain. Di Jepang, sistem Yakult Ladies sudah berjalan sejak 1963 dan kini menjadi bagian dari jaringan global yang melibatkan hampir 80.000 perempuan di 14 negara dan wilayah. Tetapi yang menarik bukan cuma skalanya.
Yakult Lady di Jepang, peran itu berkembang menjadi fungsi sosial yang lebih jelas. Yakult Ladies di sana bukan hanya menjual minuman, mereka juga terlibat dalam Courtesy Visit Activities.
Lebih dari 3.000 Yakult Ladies secara rutin mengunjungi lebih dari 37.000 lansia yang tinggal sendiri atas permintaan sekitar 131 pemerintah daerah dan institusi lain.
Artinya, kerja distribusi yang dilakukan perempuan tidak dibiarkan berdiri sendirian sebagai alat jualan belaka. Ia dihubungkan dengan kebutuhan sosial, dengan koordinasi pemerintah lokal, dengan fungsi komunitas yang konkret.
Indonesia justru sering berhenti di lapis paling dangkal. Perempuan dipuji tangguh, diberi panggung seremoni, dipotret sebagai inspirasi, tapi tidak cukup cepat diberi ekosistem yang membuat kerja mereka naik kelas menjadi lebih aman, lebih didukung, dan lebih bernilai dalam sistem perlindungan sosial.
Jadi perbedaannya bukan karena perempuan Indonesia kurang hebat. Jelas bukan. Perbedaannya ada pada cara kebijakan membaca kerja perempuan. Di satu tempat, ia diintegrasikan ke sistem sosial. Di sini, ia terlalu sering dijadikan dekorasi narasi pemberdayaan.
Di sinilah ironi paling dingin itu bekerja. Negara suka sekali memakai kata pemberdayaan, tapi terlalu pelit ketika harus menyentuh akar masalahnya. World Bank menulis bahwa kelangkaan layanan penitipan anak yang terjangkau dan berkualitas membuat banyak perempuan berhenti bekerja setelah menikah dan melahirkan, lalu kembali ke pasar kerja sebagai pelaku usaha mikro atau pekerja mandiri berskala kecil.
Bank Dunia juga menghitung, bila belanja publik untuk layanan childcare dinaikkan dari 0,04 persen PDB menjadi 0,5 persen, tingkat partisipasi kerja perempuan bisa naik menjadi 58 persen dan ekonomi bisa bertambah 62 miliar dolar AS. Angka ini brutal karena terlalu jelas.
Jadi hambatannya bukan misteri. Solusinya juga bukan ilmu gaib. Tapi yang dipilih justru tetap pola lama. Biarkan perempuan menyesuaikan diri sendiri. Biarkan mereka mengatur kerja dan pengasuhan dengan tenaga sendiri. Biarkan mereka mencari jalan samping, lalu panggil itu ketangguhan. Sistem seperti ini rapi sekali dalam satu hal, yaitu mengalihkan beban struktural menjadi cerita personal.
Ketika seorang ibu berhasil menambah penghasilan sambil tetap mengurus rumah, yang dipuji adalah semangatnya. Yang jarang dibahas adalah kenapa negara merasa cukup menonton.
Padahal setiap kali kerja perempuan dipuji tanpa pembenahan layanan pendukung, yang sebenarnya sedang dinormalisasi adalah penghematan tanggung jawab publik.
Dampak sosialnya jauh lebih besar dari sekadar botol minuman yang sampai ke teras rumah. Di balik langkah kaki para Yakult Lady, ada soal martabat kerja, keadilan, kualitas hidup, dan keberlanjutan sosial yang tidak bisa terus ditutup dengan slogan inspiratif.
Ketika perempuan harus terus menjadi bantalan bagi sempitnya akses kerja formal, mahalnya layanan pengasuhan, dan lemahnya perlindungan pendapatan, maka masyarakat sedang diajari menerima ketimpangan sebagai hal biasa.
Kenyataan lapangan memperlihatkan satu pola yang terlalu akrab. Kerja perempuan dianggap fleksibel justru karena sistem nyaman menganggap waktu, tenaga, dan emosi mereka bisa diregangkan tanpa batas.
Mereka harus ramah, konsisten, tahan cuaca, menjaga relasi pelanggan, dan tetap menopang keluarga. Semua itu dipuji sebagai dedikasi. Padahal di balik pujian itu ada pekerjaan yang secara sosial sangat bernilai, tetapi terlalu sering tidak dibicarakan setara dengan beban yang dipikulnya.
Di titik ini, yang dipertaruhkan bukan cuma penghasilan rumah tangga, tapi kualitas hidup perempuan itu sendiri. Sebab masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang mahir mengagumi ketahanan warganya, melainkan masyarakat yang cukup waras untuk tidak terus membangun ekonomi dari kelelahan yang dianggap wajar.
Karena itu tema tentang Yakult Lady seharusnya tidak dibaca sebagai cerita manis tentang ibu ibu pekerja keras, lalu selesai. Ia adalah alarm yang sopan, tetapi keras. Alarm bahwa perempuan di Indonesia sudah terlalu lama diminta membuktikan daya tahan, sementara sistem terlalu lama diberi izin untuk tidak malu.
Selama kerja perempuan masih lebih sering dirayakan daripada dilindungi, selama kisah ketangguhan lebih cepat viral daripada pembenahan childcare, akses kerja formal, dan dukungan sosial, maka kita sebenarnya sedang menyaksikan ironi yang sangat rapi.
Bukan perempuan yang kekurangan daya juang. Justru sistemlah yang terlalu lama nyaman hidup dari daya juang itu. Dan negara yang paling gemar menyebut kata pemberdayaan, seharusnya mulai berhenti sekadar kagum pada perempuan yang bertahan, lalu mulai merasa terganggu oleh alasan mengapa mereka harus setahan itu.
Source : Pecah Telur , BBC Yoghurt Delivery in Japan , Scribd Eksploitasi dan Pemberdayaan Yakult Lady

Tidak ada komentar:
Posting Komentar