Selasa, 13 Januari 2026

Revolusi Perbankan Moneter

Sumber : liputan6.com

Masalah "yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin" sering kali berakar pada bagaimana uang diciptakan dan didistribusikan dalam sistem kapitalis saat ini.

Untuk merevolusi sistem ini, para ahli ekonomi alternatif dan aktivis sosial biasanya mengusulkan perubahan pada tiga level utama: Penciptaan Uang, Akses Perbankan, dan Distribusi Nilai.

1. Reformasi Penciptaan Uang (Moneter)

Dalam sistem sekarang, sebagian besar uang diciptakan oleh bank komersial melalui utang (pinjaman). Ini menciptakan fenomena di mana uang mengalir ke mereka yang sudah punya aset (sebagai jaminan), sementara orang miskin terbebani bunga.

Sovereign Money (Uang Berdaulat): Mengembalikan hak eksklusif penciptaan uang hanya kepada Bank Sentral, bukan bank swasta. Dengan cara ini, uang baru bisa disalurkan langsung ke belanja publik (infrastruktur, pendidikan) tanpa melalui utang bank yang berbunga.

Pajak Progresif pada Aset Finansial: Bukan hanya memajaki gaji (tenaga kerja), tapi juga memajaki keuntungan dari spekulasi saham dan properti dengan tarif tinggi untuk mencegah penumpukan kekayaan di puncak.

Modern Monetary Theory (MMT) untuk Rakyat: Menggunakan kapasitas fiskal negara untuk mendanai Job Guarantee (Jaminan Kerja), di mana negara menyediakan pekerjaan bagi siapa pun yang ingin bekerja, sehingga menetapkan "lantai" bagi upah dan kesejahteraan.

2. Revolusi Perbankan dan Akses Modal

Perbankan konvensional sering kali bersifat "ekstraktif" (mengambil keuntungan dari bunga). Revolusi di sini berarti beralih ke model yang lebih "generatif".


Sistem Bagi Hasil (Risk-Sharing): Seperti prinsip dalam ekonomi syariah atau venture capital sosial. Bank tidak lagi menarik bunga tetap, melainkan berbagi risiko. Jika bisnis nasabah rugi, bank ikut menanggung; jika untung, dibagi bersama. Ini memaksa bank untuk benar-benar membantu kesuksesan nasabah, bukan hanya menagih utang.

Perbankan Komunitas dan Koperasi: Memperkuat bank milik anggota (credit unions) di mana keuntungan dikembalikan ke nasabah dalam bentuk bunga pinjaman yang rendah atau layanan sosial, bukan ke pemegang saham besar.

Digitalisasi dan Fintech Inklusif: Menggunakan teknologi untuk memberikan akses kredit tanpa jaminan aset fisik bagi UMKM, menggunakan data perilaku ekonomi sebagai pengganti kolateral.

3. Distribusi Nilai: Dari "Trickle Down" ke "Pre-distribution"

Alih-alih menunggu kekayaan "menetes ke bawah" (yang jarang terjadi), sistem harus dirancang agar uang sejak awal mengalir ke bawah.

Universal Basic Income (UBI): Memberikan jumlah uang tunai dasar secara rutin kepada setiap warga negara tanpa syarat. Ini memberikan posisi tawar bagi buruh agar tidak dipaksa bekerja dalam kondisi tidak manusiawi hanya untuk bertahan hidup.

Demokrasi di Tempat Kerja: Mendorong kepemilikan saham oleh karyawan (Employee Stock Ownership Plans). Jika perusahaan profit, buruh juga ikut kaya, bukan hanya pemilik modal.


Apa yang bisa kita lakukan sekarang?

Meskipun perubahan sistemik membutuhkan kebijakan politik, secara individu atau komunitas kita bisa memulai dengan:

Pindah ke Koperasi atau Bank Lokal: Mengalihkan dana dari bank raksasa ke lembaga keuangan yang lebih peduli pada komunitas lokal.

Mendukung Ekonomi Sirkular: Membeli dari produsen lokal agar uang tetap berputar di komunitas bawah, bukan terserap ke korporasi global.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar