Walaupun saya tidak benci perceraian tapi juga tidak menyetujuinya, bagi saya perceraian adalah suatu dosa apalagi kalau di tambah dengan adanya anak dari korban perceraian yang merupakan dosa kedua tapi bagaimana kalau tidak bisa mempertahankan pernikahan itu? Apakah harus tetap bertahan dengan mengorbankan perasaan diri sendiri dan bahkan perasaan anak itu sendiri yang setiap hari harus menyaksikan orang tuanya bertengkar, atau bercerai untuk menghindari perselisihan dan mungkin baik juga untuk jiwa anak itu sendiri? Kedua pilihan itu bukan hal yang mudah.
Teman saya ada 5 orang yang saya tahu telah bercerai dengan alasan beraneka macam, suami pemalas yang tidak betanggung jawab menafkahi keluarganya, tidak cocok dengan mertua, perselingkuhan, suami yang ringan tangan. Saya hanya akan membahas tentang si suami yang tidak bekerja karena di antara perceraian teman saya paling banyak karena hal ini, padahal si suami suami ini punya kemampuan dan pendidikan yang layak untuk bekerja. Apakah karena ini didikan keluarga yang menomorsatukan anak lelaki sehingga menjadikan mereka sebagai lelaki manja yang tidak bertanggung jawab? Entahlah.
Beberapa minggu yang lalu saya bertemu dengan mantan teman kerja yang sudah cukup lama tidak bertemu, sebut saja namanya Yuli seorang wanita cantik yang pernah menjadi model rambut. Pertemuan kami di suatu mall daerah Jakarta Pusat diawali dengan obrolan ringan sampai akhirnya dia mengabarkan kepada saya kalau dia telah resmi bercerai dengan suaminya yang telah mengarungi bahtera rumah tangga selama 5 tahun dengan di karunia 2 orang putri dan putra yang lucu lucu.
Saya cukup kaget mendengar kabar itu karena setau saya mereka adalah pasangan yang serasi dan keluarga yang harmonis serta taat beribadah dengan foto foto mesra keluarga mereka terpajang di face book. Sebelumnya saya sudah tahu kalau Yuli telah pisah rumah dengan suaminya hanya tidak menyangka kalau mereka telah resmi bercerai dalam waktu yang cukup singkat. Mereka bercerai karena suami Yuli tidak bekerja dan hanya mengandalkan penghasilan dari si istri, sebelum menikah suami Yuli membantu usaha orang tuanya tapi sayangnya setelah menikah dia memutuskan tidak membantu usaha orang tuanya hanya ikut apa yang Yuli kerjakan, padahal Yuli sendiri setelah menikah dan punya anak berhenti dari pekerjaannya dan merintis usaha sendiri.
Mereka juga mempunyai hutang usaha dan hutang dari credit card yang cukup banyak yang harus di bayar oleh Yuli walaupun mereka telah resmi bercerai. Yuli melontarkan guyon lebih enak jadi istri kontrak yang setelah selesai masa kontrak masih memiliki harta daripada seperti dirinya yang menikah 5 tahun (dengan kontrak 5 tahun) tapi tidak mendapatkan apa apa, hanya mendapatkan hutang, miris.
Saudara saya juga ditinggalkan oleh istrinya karena suaminya yang ringan mulut dan tidak sungguh sungguh bekerja hanya mengandalkan bantuan dari orang tua saja yang memberikan rumah toko beserta isinya untuk modal berusaha tapi itu juga di sia sia kan oleh si suami, si suami santai main game sedangkan si istri yang harus mengelola toko sepeda, bahkan sewaktu hamil tua si istri yang turun tangan memompa ban sepeda sendiri karena kebetulan pegawainya sedang tidak masuk kerja.
Mereka telah dikarunia 1 orang putra yang di asuh oleh istrinya. Sekarang mereka telah bercerai, si suami yang menceraikannya setelah mendapatkan wanita lain yang akan menikah dengannya tapi setelah resmi bercerai si wanita menolak untuk menikah entah apa alasannya. Sedangkan si istri balik bekerja kembali dan menyatakan tidak akan menikah lagi hanya fokus membesarkan anak satu satunya saja. Walaupun telah bercerai sang mertua masih memberikan tunjangan uang bulanan yang lumayan besar untuk si cucu.
Teman saya yang lainnya walaupun mereka belum bercerai tapi rumah tangganya tidak harmonis, si suami penganguran tapi banyak acara, banyak acara karena dia selalu beralasan kalau dia sedang mengerjakan proyek apalah yang hasilnya juga tidak jelas, sering keluyuran gak jelas. Bahkan si suami ini tega menipu istrinya meminjam uang puluhan juta yang dikatakan untuk modal usaha tapi sampai sekian tahun tidak pernah dilunasi. Untung saja si istri kariernya bagus sehingga mampu memberikan yang terbaik untuk putri satu satunya tanpa bantuan dari si suami.
Walaupun tidak semuanya seperti itu tapi cukup mudah saya menemukan korban para suami seperti ini. Apakah ini trend suami masa kini si istri yang bekerja banting tulang sedangkan si suami santai-santai saja?
Dikutip dari sebuah blog yang sedikit menyindir kehidupan rumah tangga saya, hanya satu kata untuk kejadian seperti ini. Miris.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar